Minggu, 01 April 2012

Untuk Wanita Paling Tangguh. Dari Perempuan Paling Merasa

 Manusia sepertiku mungkin manusia yang paling merasa. Merasa paling benar, merasa paling dewasa, merasa paling tertindas, merasa paling tidak beruntung, merasa paling hina, merasa paling pintar, merasa paling segala-galanya. Tapi ternyata… Tak seindah dan seburuk yang otakku bayangkan. Diriku bukan seperti itu. Tamparan kata-kata adalah salah satu tamparan paling mujarab yang diberikan orang tua kepada anaknya.

Tak perlu mereka menggunakan sapu untuk mengejar-ngejarku dan setelah tertangkap dipukuli sampai babak belur dan merintih kesakitan.

Tak perlu mereka menyulutkan korek api ke bajuku sehingga aku terbakar dan tak bernyawa dan berakhir di rumah masa depan

Tak perlu mereka melempariku  dengan batu bata ataupun alas kaki sehingga tumbuh benjolah di kepalaku

Semua tak perlu…hanya satu kalimat yang tak begitu panjang yang cukup membuatku menangis sepanjang malam tak ada sela

“Mama sayang sama mbak, dan mama ingin semua yang terbaik buat mbak”

Cuma satu kalimat itu yang mampu membangunkan ingatanku selama 21 tahun terakhir. Dimana aku selalu merasa paling segalanya. Tak ada tangis di kedua mata Ibu. Hanya kata. Hanya elusan. Hanya kesabaran seorang Ibu yang mampu menamparku sebegitu kencang.

Tak perlu aku menimpali apapun yang dikatakan Ibu. Hanya kata “Iya” yang ingin Ibu dengar.
Tak perlu aku berjuang mempertahankan argumenku seperti di bangku kuliah yang sedang berdebat demi mendapat nilai keaktifan. Hanya kata “iya” yang ingin mereka dengar.

Aku mungkin hanyalah seorang perempuan 21 tahun yang belum tahu dunia. Aku juga bukan perempuan jago debat. Aku bahkan bukan perempuan yang tanguh. Aku bukan perempuan yang mampu mengungkapkan semua hal lewat kata karena aku bukan pujangga . Tapi aku perempuan yang ekspresif *kata pacarku*

Semua hal akan terpancar di wajahku tanpa harus berkata panjang lebar. Aku mungkin hanya akan menangis bila aku merasa sangat terpojok.
Aku bukan perempuan kata-kata. Banyak hal yang ingin aku sampaikan padamu Ibu. Banyaaaakkk sekali. Tapi mulut ini serasa terkunci oleh sesenggukan tangis yang mencekik.

Tak ada kata yang terucap karena hanya ada tangis yang sudah sekuat tenaga aku menahannya dengan peluh. Maka tolong jangan bilang aku cengeng, Ibu. Hatiku teriris mendengarnya.

Takkan ada kata-kata bijak yang terucap dari mulutku. Maka mohon jangan bilang aku tidak dewasa, Ibu. Hatiku teriris mendengarnya

Tak ada kata-kata pasti yang akan aku katakana untuk sebuah keputusan. Maka tolong jangan bilang aku tidak tegas. Hatiku teriris mendengarnya, Ibu

Semua tak aka nada kata-kata Ibu. Tak ada. Karena kata-kata itu terukir jelas di hatiku yang tak mampu aku melontarkan semuanya. Kata-kata tak terucap itu hanya akan keluar dengan tetes air dari mata, sikap yang kekanak-kanakan, dan kebimbangan yang terpancar jelas dari raut mukaku.

Ibu, ingin kusampaikan kata-kata tak terucap itu. Aku sayang Ibu dengan segenap hatiku. Bukan gengsi, bukan juga malu untuk mengungkapkan. Hanya saja kata-kata itu tak mampu keluar. Mungkin karena hatiku belum merasa pantas untuk mengatakan kata “sayang” yang sama dengan yang kau katakana, Ibu. Karena bobot kata “sayang” itu sangatlah jauh berbeda. Kata sayang yang aku lontarkan mungkin bisa diibaratkan dengan hanya akan setara dengan minyak yang melayang diatas air karena massa nya lebih besar air yang mungkin diibaratkan setara dengan kata sayangmu.

Ibu, Hatiku memang sering teriris karena nasehat-nasehatmu yang selalu membuatku terpojok tapi melihat air yang menetes dari sela matamu, membuat hatiku teriris lebih dalam dan serasa luka iris itu tertabur dengan garam.perih.

Ibu, aku memang cengeng, tapi aku tau Ibu lebih cengeng dari aku karena aku tau Ibu selalu menitihkan air mata ditiap malam saat kau berhadapan dengan-Nya di solat malammu. Hanya Ibu yang menangis lebih banyak dariku.

Ibu, aku memang tidak dewasa, tapi aku tau Ibu lebih tidak dewasa karena aku tau Ibu ingin aku sayang, aku cium, aku peluk. Rasa yang diinginkan tiap anak kecil. Disayang.

Ibu, aku memang tidak realistis, tapi aku tau Ibu lebih tidak realistis karena aku tau Ibu menginginkan aku menjadi realistis dan tidak terkurung dalam angan-angan. Karena mungkin aku menjadi realistis adalah hal paling tidak realistis bagimu.

Tapi, Ibu , aku tau Ibu menahan untuk tidak memperlihatkan ketidak engengan, ketidakdewasaan,dan ketidakrealistisan Ibu saat di depanku. Hal itu sangatlah sulit Ibu. Hanya satu kata yang dapat melukiskanmu Ibu. TANGGUH.

Ibu Tangguh untuk menahan semua rasa kekecewaan Ibu terhadapku. Aku berterimakasih atas ketangguhan Ibu. Aku akan berusaha berkata-kata daripada hanya menulis. Andai Ibu membaca ini, aku harap Ibu mengerti atas sikapku selama 21 tahun ini. .Suatu saat nanti hatiku akan merasa pantas untuk mengutarakan kata-kata itu lewad mulutku. Suatu saat Ibu, tunggulah aku mengatakannya dengan sepenuh hatiku. . . .

Aku Sayang Ibu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar