Manusia sepertiku mungkin manusia yang paling merasa. Merasa paling
benar, merasa paling dewasa, merasa paling tertindas, merasa paling
tidak beruntung, merasa paling hina, merasa paling pintar, merasa paling
segala-galanya. Tapi ternyata… Tak seindah dan seburuk yang otakku
bayangkan. Diriku bukan seperti itu. Tamparan kata-kata adalah salah
satu tamparan paling mujarab yang diberikan orang tua kepada anaknya.
Tak
perlu mereka menggunakan sapu untuk mengejar-ngejarku dan setelah
tertangkap dipukuli sampai babak belur dan merintih kesakitan.
Tak perlu mereka menyulutkan korek api ke bajuku sehingga aku terbakar dan tak bernyawa dan berakhir di rumah masa depan
Tak perlu mereka melempariku dengan batu bata ataupun alas kaki sehingga tumbuh benjolah di kepalaku
Semua tak perlu…hanya satu kalimat yang tak begitu panjang yang cukup membuatku menangis sepanjang malam tak ada sela
“Mama sayang sama mbak, dan mama ingin semua yang terbaik buat mbak”
Cuma
satu kalimat itu yang mampu membangunkan ingatanku selama 21 tahun
terakhir. Dimana aku selalu merasa paling segalanya. Tak ada tangis di
kedua mata Ibu. Hanya kata. Hanya elusan. Hanya kesabaran seorang Ibu
yang mampu menamparku sebegitu kencang.
Tak perlu aku menimpali apapun yang dikatakan Ibu. Hanya kata “Iya” yang ingin Ibu dengar.
Tak
perlu aku berjuang mempertahankan argumenku seperti di bangku kuliah
yang sedang berdebat demi mendapat nilai keaktifan. Hanya kata “iya”
yang ingin mereka dengar.
Aku mungkin hanyalah seorang
perempuan 21 tahun yang belum tahu dunia. Aku juga bukan perempuan jago
debat. Aku bahkan bukan perempuan yang tanguh. Aku bukan perempuan yang
mampu mengungkapkan semua hal lewat kata karena aku bukan pujangga .
Tapi aku perempuan yang ekspresif *kata pacarku*
Semua hal
akan terpancar di wajahku tanpa harus berkata panjang lebar. Aku
mungkin hanya akan menangis bila aku merasa sangat terpojok.
Aku
bukan perempuan kata-kata. Banyak hal yang ingin aku sampaikan padamu
Ibu. Banyaaaakkk sekali. Tapi mulut ini serasa terkunci oleh sesenggukan
tangis yang mencekik.
Tak ada kata yang terucap karena
hanya ada tangis yang sudah sekuat tenaga aku menahannya dengan peluh.
Maka tolong jangan bilang aku cengeng, Ibu. Hatiku teriris mendengarnya.
Takkan
ada kata-kata bijak yang terucap dari mulutku. Maka mohon jangan bilang
aku tidak dewasa, Ibu. Hatiku teriris mendengarnya
Tak
ada kata-kata pasti yang akan aku katakana untuk sebuah keputusan. Maka
tolong jangan bilang aku tidak tegas. Hatiku teriris mendengarnya, Ibu
Semua
tak aka nada kata-kata Ibu. Tak ada. Karena kata-kata itu terukir jelas
di hatiku yang tak mampu aku melontarkan semuanya. Kata-kata tak
terucap itu hanya akan keluar dengan tetes air dari mata, sikap yang
kekanak-kanakan, dan kebimbangan yang terpancar jelas dari raut mukaku.
Ibu,
ingin kusampaikan kata-kata tak terucap itu. Aku sayang Ibu dengan
segenap hatiku. Bukan gengsi, bukan juga malu untuk mengungkapkan. Hanya
saja kata-kata itu tak mampu keluar. Mungkin karena hatiku belum merasa
pantas untuk mengatakan kata “sayang” yang sama dengan yang kau
katakana, Ibu. Karena bobot kata “sayang” itu sangatlah jauh berbeda.
Kata sayang yang aku lontarkan mungkin bisa diibaratkan dengan hanya
akan setara dengan minyak yang melayang diatas air karena massa nya
lebih besar air yang mungkin diibaratkan setara dengan kata sayangmu.
Ibu,
Hatiku memang sering teriris karena nasehat-nasehatmu yang selalu
membuatku terpojok tapi melihat air yang menetes dari sela matamu,
membuat hatiku teriris lebih dalam dan serasa luka iris itu tertabur
dengan garam.perih.
Ibu, aku memang cengeng, tapi aku tau
Ibu lebih cengeng dari aku karena aku tau Ibu selalu menitihkan air mata
ditiap malam saat kau berhadapan dengan-Nya di solat malammu. Hanya Ibu
yang menangis lebih banyak dariku.
Ibu, aku memang tidak
dewasa, tapi aku tau Ibu lebih tidak dewasa karena aku tau Ibu ingin aku
sayang, aku cium, aku peluk. Rasa yang diinginkan tiap anak kecil.
Disayang.
Ibu, aku memang tidak realistis, tapi aku tau
Ibu lebih tidak realistis karena aku tau Ibu menginginkan aku menjadi
realistis dan tidak terkurung dalam angan-angan. Karena mungkin aku
menjadi realistis adalah hal paling tidak realistis bagimu.
Tapi,
Ibu , aku tau Ibu menahan untuk tidak memperlihatkan ketidak engengan,
ketidakdewasaan,dan ketidakrealistisan Ibu saat di depanku. Hal itu
sangatlah sulit Ibu. Hanya satu kata yang dapat melukiskanmu Ibu.
TANGGUH.
Ibu Tangguh untuk menahan semua rasa kekecewaan
Ibu terhadapku. Aku berterimakasih atas ketangguhan Ibu. Aku akan
berusaha berkata-kata daripada hanya menulis. Andai Ibu membaca ini, aku
harap Ibu mengerti atas sikapku selama 21 tahun ini. .Suatu saat nanti
hatiku akan merasa pantas untuk mengutarakan kata-kata itu lewad
mulutku. Suatu saat Ibu, tunggulah aku mengatakannya dengan sepenuh
hatiku. . . .
Aku Sayang Ibu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar